About Me

There's nothing special about me, I'm just an ordinary girl who serve an extraordinary God.

Rabu, 02 November 2016

Taat ? Atau bersembunyi ?

Taat ? Aku kah itu ?

Pertanyaan itu berkali-kali terlintas di kepalaku. Entah mengapa dan bagaimana, tapi pertanyaan itu terus tertancap di kepalaku. Begitu sulit menghilangkannya. Aku tidak begitu menyukainya. Aku memilih membaca beberapa novel dan karangan-karangan detektif yang kusuka, menghabiskan sedikit waktu untuk nonton, lalu sisanya bercengkrama dengan sahabat-sahabatku. Buruknya, pertanyaan itu masih menancap disana-dikepalaku. Tapi akhirnya aku menyerah dan berkata “Ya, Ayah. Apa yang hendak Engkau ceritakan untukku ?”

Dimulailah semuanya..

Yah, beberapa waktu lalu aku menginginkan sesuatu. Aku begitu menginginkannya. Seperti seorang anak lelaki yang takjub melihat mobil-mobilan dengan remote control, kurasa seperti itulah aku. Aku menginginkan “mobil-mobilan” itu. Apa yang akan seorang anak lakukan ketika menginginkan sesuatu ? Yup, meminta dari orang tuanya. Bagaimana jika anak tersebut sudah punya cukup uang untuk membelinya? Kurasa anak yang baik tetap akan minta ijin kepada orang tuanya. Bukankah dia masih menggunakan uang orang tuanya ? Dan seperti itulah aku. Meminta ijin kepada Ayah (Jesus).

Dengan tersenyum Ayah menjawab “Tidak”, dengan beberapa alasan yang—maaf, tidak bisa kuceritakan—aku mengiyakannya. Yup, aku mengerti itu. Tapi, aku masih menginginkannya. Tidak, lebih dari pada itu aku bisa memilikinya. Tapi, kurasa aku memang anak yang baik *hahaha*. Aku melepaskan keinginanku. Aku memilih untuk TAAT. Aku memikirkan satu hal, yang setiap saat, selalu, dan begitu sering aku dengar dan aku baca pada berbagai status, baik itu Twitter, Facebook, dan berbagai sosial media lainnya. Kalimat yang tidak asing lagi.

“Jika Tuhan mengatakan ‘tidak’, itu artinya Ia menyediakan sesuatu yang lebih baik dari itu”.

Tepat sekali ! Tuhan memang selalu menyediakan yang terbaik kan ? Aku bahagia dan terhibur. Pikirku “Baiklah, tenang saja, Yuli. Tuhan tau mana yang terbaik”. Sampai akhirnya pertanyaan itu muncul. Benarkah ? Benarkah kau taat ? Benarkah tidak apa-apa ?

“Tentu saja, Ayah” aku mengungkapkannya dalam hati.

Tapi Tuhan menyingkapkan sesuatu yang lain. Ini berbeda. Ini menggairahkan dan sedikit menggelikan jika aku menoleh dan melihat kenyataan dari perbuatanku.

IA bertanya lagi “Bagaimana jika Aku tidak menyediakan yang terbaik ?”

Aku terkekeh “Itu tidak mungkin, Engkaulah yang selalu menyediakan yang terbaik”. “Untuk itu kah kau melepaskan keinginanmu?” Ayah bertanya lagi.

Aku terdiam. Otakku berputar. Aku berpikir keras. Aku rasa kalau didalam hatiku terdapat ribuan orang, mereka sedang berteriak ‘Ya, benar ! Tentu saja !’. Air mata mengalir. Aku gemetaran. Untuk satu jam lamanya, aku diam. Ya, benar! Aku sedang bersembunyi, aku sedang bersembunyi di balik kebaikan Tuhan. Aku sedang taat ? Benarkah ? Tidak ! Aku sedang mengharapkan yang lain, yang lebih baik. Mungkin aku memang terlihat taat—tapi tidak—aku sedang menantikan ‘The Best from God’. Aku meringis. Ini begitu menggelikan. Aku begitu menyedihkan. Aku sedang menghibur diriku sendiri sebenarnya. Antara taat dengan tidak, aku sedang memakai ‘The Best from God’ untuk menghibur diriku. Untuk mengurangi rasa tertekan dan kecewaku.

Aku tak bisa berkata apa-apa. Ayah melihatku, Ia tersenyum. Senyum yang begitu hangat. Aku mengakuinya. “Ya, Ayah. Inilah aku. Mulai saat ini, aku tidak perlu ada alasan. Jika Engkau berkata ‘tidak’, maka ‘tidak’. Bukan karena Engkau akan memberikan yang terbaik, tapi karena aku begitu mencintai-Mu..”

“Kau tau Ayah, yang terbaik memang sudah kupegang. Aku memiliki-Mu”
Bagian yang terbaik, rancangan damai sejahtera, itu memang sudah bagian dari anak-anak Tuhan. Tidak perlu menghibur diri, tidak perlu ragu untuk mengikuti-Nya.
Aku menggumam dalam hati “Bahkan sekalipun Engkau tidak menyediakan yang lebih baik, asal Engkau berkata ‘tidak’, itu cukup ! Tidak ada yang lebih baik dari melihat Engkau tersenyum Ayah”. Bukankah aku anak-Nya ? Aku tidak perlu alasan apapun untuk taat. 
Kurasa inilah “Love”. Tapi bukan karena aku mengasihi-Nya, maka Ia mengasihiku. Tapi karena Ia lebih dahulu mengasihiku, dengan cinta yang jauh lebih besar, yang tak dapat kupikirkan dan kubayangkan.
1 Yoh 4:19
“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Kita mengasihi karena Dia lebih dahulu mengasihi kita. Maka kita menaruh kasih, oleh sebab Ia mula-mula mengasihi kita”.
I Love You, JESUS :)



Halo 👋🏽😄

Tadi adalah kesaksian dari kaka rohani saya, Yulivia Sinaga 😁
Dengan gaya menulis yang 'penulis banget', saya nyaman banget sih bacanya. Hehe. Selain itu makna dari kesaksian ini pun sangat memberkati saya , kawan2. Semoga suatu hari kaka saya ini nerbitin bukunya yah *Amin* 👏🏽
Satu hal yang yang dapat adalah ‘hadiah terbaik’ yang kita inginkan, dambakan, itu semua sudah menjadi milik kita. Karena kita milikNya dan Ia adalah milik kita 💞
Jadi, ketika kita pengen sesuatu tapi Tuhan ga ngasih. Jangan kecewa ! Jangan sedih ! Kan hadiah terbaiknya udah kita miliki ? Seperti kata Rasul Paulus.
Filipi 3 : 8
“Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar